Oleh: Ferdi Dakio, S.I.K.
Serdik Sespimmen Dikreg ke-67
Setiap orang tua tentu berharap anaknya tumbuh dalam lingkungan yang aman. Kita mengajarkan mereka berhati-hati ketika menyeberang jalan, tidak mengikuti orang asing, dan segera pulang setelah bermain.
Namun ada satu pendidikan penting yang terkadang belum diberikan secara terbuka, yaitu mengenalkan batas tubuh dan cara melindungi diri dari kekerasan seksual.
Persoalan ini kembali menjadi perhatian setelah Polresta Banda Aceh mengungkap dugaan kekerasan seksual terhadap dua anak pada awal November 2026. Peristiwa tersebut mengingatkan bahwa ancaman terhadap anak dapat muncul dari orang yang sudah mereka kenal.
Karena itu, perlindungan anak perlu dimulai dari pengetahuan, komunikasi, dan hubungan saling percaya dalam keluarga.
Ajarkan Anak Mengenali Batas Tubuh
Pendidikan mengenai keselamatan tubuh tidak harus menunggu anak memasuki usia remaja.
Sejak kecil, anak dapat diajarkan bahwa tubuhnya memiliki bagian pribadi yang tidak boleh dilihat atau disentuh orang lain tanpa alasan perawatan atau kesehatan yang tepat.
Gunakan bahasa sederhana sesuai usia anak. Jelaskan bahwa mereka berhak menolak sentuhan yang membuat tidak nyaman, termasuk dari orang yang dikenal.
Anak juga perlu memahami perbedaan antara kejutan menyenangkan dan rahasia yang membuatnya takut, malu, atau terancam.
Jika seseorang meminta anak merahasiakan tindakan yang membuatnya tidak nyaman, anak harus mengetahui bahwa ia boleh segera menceritakannya kepada orang tua atau orang dewasa tepercaya.
Jangan Hanya Mengajarkan Anak Takut kepada Orang Asing
Sebagian orang tua masih menekankan bahwa bahaya hanya datang dari orang yang tidak dikenal.
Padahal pelaku kekerasan seksual terhadap anak dapat berasal dari lingkungan yang dekat dengan kehidupan korban.
Karena itu, pendidikan keselamatan tidak cukup hanya dengan larangan mengikuti orang asing.
Orang tua perlu mengenali lingkungan bermain anak, memperhatikan siapa yang sering berinteraksi dengannya, dan membangun komunikasi yang membuat anak nyaman bercerita.
Yang terpenting, jangan membiasakan anak untuk selalu menuruti permintaan orang dewasa tanpa memahami batasannya.
Menghormati orang yang lebih tua tetap penting, tetapi anak juga harus mengetahui bahwa mereka berhak menolak tindakan yang melanggar batas tubuhnya.
Ketika Anak Bercerita, Dengarkan dan Percayai
Salah satu tantangan dalam penanganan kekerasan seksual adalah ketika anak takut menceritakan pengalamannya.
Rasa malu, ancaman pelaku, atau kekhawatiran dimarahi dapat membuat anak memilih diam.
Apabila anak mengungkapkan pengalaman yang mengarah pada kekerasan seksual, orang tua perlu mendengarkan dengan tenang, tidak menyalahkan, dan tidak memaksanya mengulang cerita berkali-kali.
Pastikan anak berada di tempat aman. Segera cari bantuan kepolisian, layanan perlindungan anak, dan tenaga profesional yang kompeten.
Hindari menyebarkan identitas, foto, atau cerita pribadi korban melalui media sosial. Perlindungan terhadap martabat dan kondisi psikologis anak harus tetap menjadi prioritas.
Perlindungan Anak Merupakan Tanggung Jawab Bersama
Polri memiliki tanggung jawab melakukan penegakan hukum terhadap pelaku kekerasan seksual. Namun pencegahan juga membutuhkan keterlibatan keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat.
Anak perlu mendapatkan pendidikan keselamatan tubuh yang sesuai usianya. Orang tua perlu membangun komunikasi yang terbuka. Sekolah dan masyarakat harus menyediakan lingkungan yang aman untuk melaporkan dugaan kekerasan.
Kita tidak dapat membebankan seluruh tanggung jawab keselamatan kepada anak. Orang dewasalah yang berkewajiban menciptakan lingkungan yang melindungi mereka.
Ajarkan anak berani berkata tidak ketika batas tubuhnya dilanggar. Namun yang lebih penting, pastikan mereka memiliki orang dewasa yang mau mendengarkan, mempercayai, dan melindunginya ketika meminta pertolongan.
Sebab perlindungan anak dimulai ketika mereka mengetahui bahwa keselamatan dan suara mereka benar-benar dihargai.
Belum ada komentar untuk artikel ini.