Oleh: Ferdi Dakio, S.I.K.
Serdik Sespimmen Dikreg ke-67
Hujan deras mungkin terdengar biasa bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan banjir. Persoalannya, kondisi dapat berubah dalam waktu singkat. Air yang awalnya hanya menggenangi halaman dapat meningkat dan mulai memasuki rumah.
Saat itulah keputusan sederhana menjadi sangat penting.
Apakah tetap bertahan atau mengungsi? Apa yang harus diselamatkan lebih dahulu? Bagaimana dengan anak-anak dan lansia? Apakah aliran listrik sudah diamankan?
Banjir yang kembali terjadi di sejumlah wilayah Aceh mengingatkan kita bahwa menghadapi bencana tidak cukup hanya dengan bereaksi ketika air sudah tinggi.
Kesiapsiagaan harus dimulai sebelum keadaan berubah menjadi darurat.
Jangan Menunggu Situasi Memburuk
Salah satu kesalahan yang dapat terjadi saat banjir adalah menunda evakuasi karena merasa air masih rendah.
Padahal keputusan untuk mengungsi sebaiknya mempertimbangkan perkembangan kondisi, peringatan petugas, intensitas hujan, kenaikan permukaan air, serta kemampuan anggota keluarga menyelamatkan diri.
Keluarga yang memiliki anak kecil, lansia, penyandang disabilitas, atau anggota keluarga yang sedang sakit perlu mengambil keputusan lebih awal.
Dokumen penting seperti KTP, kartu keluarga, ijazah dan dokumen kendaraan sebaiknya ditempatkan dalam wadah tahan air. Obat-obatan rutin, pakaian secukupnya, telepon genggam, pengisi daya, air minum dan kebutuhan anak juga dapat disiapkan dalam satu tas yang mudah dibawa.
Hal sederhana seperti ini sering dianggap tidak mendesak sampai keadaan benar-benar membutuhkan.
Rumah Bisa Ditinggalkan, Keselamatan Jangan Dipertaruhkan
Sebagian orang enggan meninggalkan rumah karena khawatir terhadap barang berharga atau keamanan tempat tinggal.
Kekhawatiran tersebut dapat dipahami. Namun keselamatan jiwa tetap harus menjadi prioritas.
Sebelum meninggalkan rumah, matikan aliran listrik jika kondisi memungkinkan dan aman untuk dilakukan. Jangan memaksakan diri menerobos arus air yang kuat. Anak-anak juga tidak boleh dibiarkan bermain di genangan karena kita tidak mengetahui kondisi permukaan jalan, saluran air, benda tajam, maupun bahaya lain yang tertutup air.
Masyarakat juga perlu menghindari kerumunan yang datang hanya untuk melihat lokasi banjir. Selain berisiko bagi diri sendiri, keberadaan kendaraan dan orang yang tidak berkepentingan dapat menghambat pergerakan petugas maupun proses evakuasi.
Keamanan Tetap Penting Saat Mengungsi
Bencana tidak menghilangkan kebutuhan terhadap keamanan.
Rumah yang ditinggalkan, lokasi pengungsian, distribusi bantuan, hingga jalur evakuasi membutuhkan pengamanan. Karena itu, koordinasi antara pemerintah daerah, BPBD, TNI, Polri, tenaga kesehatan, relawan dan masyarakat menjadi penting.
Warga juga perlu mengikuti informasi dari sumber resmi dan arahan petugas di lapangan. Jangan mudah menyebarkan informasi mengenai jebolnya tanggul, korban, atau kondisi wilayah tertentu sebelum kebenarannya dapat dipastikan.
Informasi yang keliru dalam situasi darurat dapat menimbulkan kepanikan dan memengaruhi keputusan masyarakat.
Kesiapsiagaan Dimulai Sebelum Bencana

Kita memang tidak dapat menghentikan hujan atau menentukan kapan air sungai akan meluap. Namun kita dapat mempersiapkan bagaimana keluarga harus bertindak ketika risiko meningkat.
Tentukan barang yang harus dibawa. Ketahui jalur menuju tempat aman. Prioritaskan anggota keluarga yang rentan. Ikuti arahan petugas dan jangan mengambil risiko hanya untuk menyelamatkan barang.
Banjir mungkin datang dengan cepat. Karena itu, keputusan keselamatan jangan dibuat terlambat.
Barang yang tertinggal masih mungkin diganti. Keselamatan diri dan keluarga tidak memiliki pengganti.
Belum ada komentar untuk artikel ini.