Ketika Anak Sulit Lepas dari Gawai: Orang Tua Perlu Hadir, Bukan Sekadar Melarang

03 Nov 2026 11:08   Humas   9x dilihat

Ketika Anak Sulit Lepas dari Gawai: Orang Tua Perlu Hadir, Bukan Sekadar Melarang

Oleh: Ferdi Dakio, S.I.K.

Serdik Sespimmen Dikreg ke-67

Pemandangan anak memegang telepon genggam kini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Sepulang sekolah mereka menonton video, bermain gim, membuka media sosial, atau berkomunikasi dengan teman.

Teknologi tentu memberikan banyak manfaat. Anak dapat belajar, mencari informasi, dan mengembangkan keterampilan melalui perangkat digital.

Persoalan muncul ketika gawai mulai mengambil terlalu banyak ruang dalam kehidupan mereka.

Di Aceh Barat, pemerintah daerah baru-baru ini menyoroti adanya anak usia sekolah dasar yang bermain telepon genggam hingga larut malam, bahkan dilaporkan tidak tidur karena terlalu asyik menggunakan perangkat tersebut.

Situasi seperti ini seharusnya menjadi perhatian bersama.

Bukan Sekadar Soal Berapa Jam

Orang tua sering mengukur persoalan gawai hanya dari durasi.

“Sudah dua jam, matikan HP.”

Padahal yang perlu diperhatikan bukan hanya berapa lama anak berada di depan layar, tetapi juga apa yang dilakukan selama waktu tersebut.

Dua jam mengikuti kelas daring tentu berbeda dengan dua jam bermain gim tanpa jeda. Menonton materi pendidikan juga berbeda risikonya dengan mengakses konten yang tidak sesuai usia.

Karena itu, orang tua perlu mengetahui aplikasi yang digunakan, permainan yang dimainkan, dengan siapa anak berkomunikasi, dan jenis konten yang sering dikonsumsi.

Pengawasan tidak harus dilakukan dengan memata-matai anak. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan berdiskusi mengenai aktivitas digital mereka.

Jangan Jadikan Gawai sebagai Pengasuh

Ada situasi yang sangat mudah terjadi di rumah.

Ketika orang tua sibuk bekerja atau ingin anak tenang, telepon genggam diberikan. Anak kemudian diam dan orang tua dapat melanjutkan aktivitasnya.

Sesekali mungkin tidak menjadi persoalan. Tetapi jika terus dilakukan, anak dapat terbiasa menjadikan layar sebagai sumber utama hiburan.

Keluarga perlu memiliki aturan yang jelas.

Misalnya, tidak menggunakan telepon saat makan bersama, tidak membawa gawai ke tempat tidur, menghentikan permainan sebelum waktu tidur, serta menentukan waktu tertentu untuk aktivitas tanpa layar.

Aturan tersebut akan lebih efektif jika orang tua juga memberikan contoh.

Sulit meminta anak meletakkan telepon saat makan apabila orang tua sendiri terus membaca pesan atau membuka media sosial di meja makan.

Kenali Ketika Kebiasaan Mulai Bermasalah

Orang tua perlu lebih waspada ketika penggunaan gawai mulai mengganggu aktivitas penting anak.

Anak menjadi sulit tidur, prestasi belajar menurun, aktivitas fisik berkurang, mudah marah ketika gawai diambil, enggan berinteraksi dengan keluarga, atau terus menggunakan perangkat secara diam-diam hingga larut malam.

Satu tanda tidak otomatis menunjukkan anak mengalami ketergantungan. Namun perubahan yang terjadi berulang dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari tidak seharusnya dianggap biasa.

Anak Membutuhkan Pendampingan Digital

Melindungi anak di era digital tidak berarti menjauhkan mereka sepenuhnya dari teknologi.

Anak justru perlu belajar menggunakan teknologi secara sehat, aman, dan bertanggung jawab.

Sekolah, pemerintah, kepolisian, dan masyarakat mempunyai peran dalam membangun ruang digital yang aman bagi anak. Namun pengawasan paling dekat tetap berada di rumah.

Karena itu, ketika anak sulit melepaskan telepon genggam, respons pertama tidak selalu harus berupa hukuman.

Tanyakan apa yang mereka lakukan, kenali dunia digital mereka, sepakati batas penggunaannya, dan yang paling penting, sediakan waktu agar anak mempunyai kehidupan yang menarik di luar layar.

Sebab anak tidak hanya membutuhkan batasan dalam menggunakan teknologi. Mereka juga membutuhkan kehadiran orang tua ketika belajar hidup bersama teknologi.

Tags: perhatian orang tuaserdik sespimen dikreg ke67Polisi Bersama Masyarakat


Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini.

Tinggalkan Komentar

Anti-Spam: Komentar akan dimoderasi. Hindari penggunaan link, kata-kata tidak pantas, atau promosi.
Minimal 3 karakter. Hindari karakter spesial.
Email Anda tidak akan dipublikasikan.
0/1000 karakter
Jawab pertanyaan matematika di atas untuk memverifikasi bahwa Anda manusia