Oleh: Ferdi Dakio, S.I.K.
Serdik Sespimmen Dikreg ke-67
Seorang pemuda baru saja menyelesaikan pendidikan. Ia memiliki keinginan bekerja, membantu keluarga, dan membangun masa depan. Namun setelah mengirimkan sejumlah lamaran, pekerjaan yang diharapkan belum juga diperoleh.
Situasi seperti ini dialami banyak anak muda. Sebagian terkendala pengalaman kerja, sebagian belum memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan, sementara yang lain menghadapi terbatasnya kesempatan kerja di daerahnya.
Persoalan pengangguran pemuda tidak cukup dipahami sebagai urusan mencari pekerjaan. Ada dimensi sosial yang perlu diperhatikan, terutama ketika anak muda kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dan berpartisipasi secara produktif dalam masyarakat.
Di Banda Aceh, kepolisian mulai menunjukkan perhatian terhadap persoalan tersebut. Pada 5 November 2026, Wakapolresta Banda Aceh menemui para pemuda di UPTD Balai Latihan Kerja, sementara Polsek Ulee Kareng turut membantu masyarakat memperoleh informasi kesempatan kerja.
Langkah ini menarik karena memperlihatkan bahwa upaya menjaga keamanan masyarakat juga dapat dilakukan melalui pendekatan sosial dan pemberdayaan.
Pengangguran Tidak Identik dengan Kejahatan
Ada pandangan yang perlu diluruskan. Tidak semua orang yang menganggur berpotensi melakukan tindak pidana.
Sebagian besar justru sedang berusaha mencari kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya.
Namun dalam kajian kriminologi, kondisi sosial seperti keterbatasan kesempatan ekonomi, lemahnya dukungan lingkungan, dan keterasingan sosial dapat menjadi bagian dari faktor risiko yang perlu diperhatikan.
Karena itu, pencegahan kejahatan tidak cukup hanya mengandalkan patroli, penindakan, atau pemberian sanksi.
Pendekatan social crime prevention menekankan pentingnya mengurangi faktor risiko sosial melalui pendidikan, penguatan keterampilan, dukungan keluarga, dan kesempatan berpartisipasi dalam kegiatan produktif.
Anak Muda Membutuhkan Akses

Nasihat agar pemuda rajin bekerja tentu baik. Tetapi nasihat tersebut tidak akan banyak membantu apabila mereka tidak mengetahui tempat memperoleh pelatihan atau informasi lowongan kerja.
Di sinilah pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan masyarakat perlu bekerja bersama.
Balai latihan kerja dapat membantu meningkatkan keterampilan. Dunia usaha dapat memberikan informasi kebutuhan tenaga kerja. Pemerintah daerah dapat memperluas akses pelatihan dan penempatan kerja.
Sementara itu, kepolisian melalui fungsi pembinaan masyarakat dapat membantu membangun komunikasi, mengidentifikasi persoalan sosial, dan menghubungkan warga dengan pihak yang memiliki kewenangan serta sumber daya untuk membantu.
Peran tersebut tidak berarti polisi mengambil alih tugas instansi ketenagakerjaan, melainkan mendukung terciptanya lingkungan sosial yang lebih aman dan produktif.
Pencegahan Dimulai dari Kepedulian
Keamanan lingkungan tidak selalu dibangun setelah terjadi gangguan kamtibmas.
Terkadang, pencegahan dimulai ketika masyarakat memberikan ruang kepada pemuda untuk belajar, bekerja, berorganisasi, dan mengembangkan kemampuan.
Keluarga juga memiliki peran penting. Anak muda yang belum memperoleh pekerjaan membutuhkan dukungan dan arahan yang realistis, bukan tekanan atau penilaian negatif yang terus-menerus.
Bagi para pemuda, masa menunggu pekerjaan dapat dimanfaatkan untuk mengikuti pelatihan, memperluas keterampilan, membangun jaringan profesional, atau mencoba kegiatan usaha sesuai kemampuan.
Keamanan dan Kesejahteraan Saling Berkaitan
Polri memiliki tanggung jawab memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat. Namun keamanan yang berkelanjutan juga membutuhkan kondisi sosial yang mendukung kehidupan masyarakat.
Karena itu, perhatian terhadap pemberdayaan pemuda merupakan bagian yang relevan dalam pendekatan kepolisian yang berorientasi pada pencegahan.
Penegakan hukum tetap diperlukan ketika terjadi tindak pidana. Tetapi masyarakat juga membutuhkan upaya yang membantu mengurangi berbagai kondisi yang dapat meningkatkan kerentanan sosial.
Anak muda tidak cukup hanya diminta menjauhi perilaku negatif. Mereka juga perlu diberikan kesempatan, keterampilan, dan dukungan agar mampu membangun masa depan yang lebih baik.
Sebab menjaga keamanan masyarakat bukan hanya tentang menangani persoalan yang sudah terjadi, tetapi juga tentang membantu menciptakan kondisi agar persoalan tersebut dapat dicegah sejak awal.
Belum ada komentar untuk artikel ini.